reicha.net – Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG menutup perdagangan Senin sore di zona hijau.
Penguatan IHSG terjadi seiring kinerja positif mayoritas bursa saham di kawasan Asia.
Pada penutupan perdagangan, IHSG naik 96,61 poin atau 1,22 persen.
Indeks utama Bursa Efek Indonesia itu berakhir di level 8.031,87.
Indeks LQ45 turut mencatatkan kenaikan sebesar 5,36 poin atau 0,66 persen.
LQ45 ditutup di posisi 820,94 pada akhir sesi perdagangan.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjelaskan pergerakan pasar hari ini cukup dinamis.
Ia menyebut IHSG sempat dibuka melemah pada awal perdagangan pagi.
Pelemahan awal dipicu sentimen negatif dari penurunan outlook peringkat sejumlah emiten.
Namun, tekanan tersebut tidak berlangsung lama di sepanjang sesi perdagangan.
“Setelah sempat dibuka melemah, IHSG berhasil berbalik menguat,” kata Ratna.
Ia menegaskan penguatan bursa Asia menjadi faktor utama pembalikan arah IHSG.
Baca juga: “Pegadaian Jamin Ketersediaan Emas Fisik Meski Permintaan Naik”
Sentimen Global dan Komoditas Dorong Optimisme Pasar
Selain penguatan regional, sentimen global turut menopang pergerakan indeks.
Ratna menyoroti kenaikan harga komoditas sebagai katalis tambahan bagi pasar.
Harga emas, perak, dan tembaga tercatat menguat di pasar internasional.
Kenaikan tersebut mendorong minat investor terhadap saham berbasis komoditas.
Saham sektor barang baku dan energi menjadi penerima manfaat terbesar.
Kondisi ini memperkuat sentimen positif di lantai bursa domestik.
Penguatan komoditas juga dinilai sejalan dengan meningkatnya permintaan global.
Pelaku pasar memandang prospek sektor berbasis sumber daya alam tetap solid.
Di sisi lain, investor tetap mencermati perkembangan ekonomi global.
Kebijakan moneter negara maju masih menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Data Domestik Perkuat Kepercayaan Investor
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari data Indeks Keyakinan Konsumen.
IKK Indonesia meningkat ke level 127,0 pada Januari 2026.
Angka tersebut naik dari posisi 123,5 pada Desember 2025.
Peningkatan ini menjadi level tertinggi sejak Januari 2025.
Kenaikan IKK mencerminkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional.
Kepercayaan konsumen yang membaik biasanya berdampak positif pada konsumsi.
Namun, pelaku pasar juga mencermati data penjualan ritel terbaru.
Retail sales Desember 2025 diperkirakan melambat menjadi 5,5 persen.
Pada November 2025, pertumbuhan penjualan ritel masih tercatat 6,3 persen.
Perlambatan ini dinilai sebagai faktor yang perlu diwaspadai investor.
Sektor Penggerak dan Saham Unggulan
Secara sektoral, sembilan sektor saham mencatatkan penguatan pada perdagangan hari ini.
Sektor barang baku memimpin kenaikan dengan lonjakan 4,36 persen.
Sektor energi menyusul dengan penguatan sebesar 2,96 persen.
Sektor barang konsumen non primer juga naik sekitar 2 persen.
Di sisi lain, dua sektor tercatat melemah sepanjang sesi perdagangan.
Sektor keuangan turun 0,73 persen dan sektor kesehatan melemah 0,13 persen.
Untuk saham individual, YELO, BUVA, CHEM, SOCI, dan EMAS mencatatkan penguatan terbesar.
Sementara itu, saham REAL, KJEN, SOTS, KOCI, dan FITT mengalami tekanan jual.
Aktivitas perdagangan tercatat cukup ramai dengan lebih dari 2,27 juta transaksi.
Sebanyak 40,69 miliar lembar saham berpindah tangan sepanjang hari.
Nilai transaksi mencapai Rp17,86 triliun hingga penutupan perdagangan.
Dari seluruh saham yang diperdagangkan, 433 saham menguat.
Sebanyak 252 saham melemah dan 136 saham stagnan.
Bursa Asia Hijau dan Agenda Reformasi Pasar Modal
Kinerja positif IHSG sejalan dengan penguatan bursa regional Asia.
Indeks Nikkei melonjak 2.110,20 poin atau 3,89 persen.
Indeks Shanghai Composite menguat 57,50 poin atau 1,41 persen.
Hang Seng naik 467,21 poin atau 1,76 persen.
Straits Times juga ditutup menguat 20,50 poin atau 0,42 persen.
Penguatan regional ini memperkuat sentimen risiko di pasar Asia.
Di dalam negeri, Bursa Efek Indonesia memiliki agenda penting pekan ini.
BEI dijadwalkan bertemu MSCI pada Rabu mendatang.
Pertemuan tersebut membahas percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia.
Reformasi itu ditargetkan rampung pada April 2026.
Langkah ini dinilai strategis untuk meningkatkan kepercayaan investor global.
Ke depan, pasar berharap reformasi mampu memperkuat daya saing pasar modal nasional.
Penguatan IHSG hari ini mencerminkan kombinasi sentimen global dan domestik.
Pelaku pasar akan terus mencermati data ekonomi dan perkembangan regional berikutnya.
Baca juga: “Asing Terciduk Diam-Diam Borong 10 Saham Ini Kala IHSG Ambruk”




Leave a Reply