Kesehatan

Surveilans Kesehatan Diperketat di Soetta Antisipasi Virus Nipah

reicha.net – Pemerintah Provinsi Banten kembali mengaktifkan sistem surveilans kesehatan untuk mencegah masuknya virus Nipah. Langkah ini dilakukan menyusul tingginya mobilitas penumpang internasional melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta, salah satu pintu masuk utama di Indonesia.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Ati Pramudji Hastuti, menjelaskan bahwa surveilans aktif kini “dinyalakan” dengan fokus pada Bandara Soekarno-Hatta.
“Surveilans aktif baru di-alert, dinyalakan. Kita menggunakan Bandara Soekarno-Hatta yang sering jadi pintu masuk,” kata Ati di Kota Serang, Selasa.

Koordinasi pengawasan dilakukan bersama Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Soekarno-Hatta. Penumpang yang datang dari wilayah endemis akan menjalani skrining kesehatan sejak kedatangan.
“Nah, semua orang-orang yang datang, terutama dari daerah-daerah endemis, tentu akan dilakukan skrining. Sama halnya seperti menghadapi COVID-19,” jelas Ati.

Baca juga: “Pemprov Riau Mediasi Aksi Pengungsi Rohingya”

Perbedaan Penanganan Virus Nipah dan COVID-19

Ati menegaskan bahwa penanganan virus Nipah berbeda dengan COVID-19. Pemerintah masih menyusun prosedur pengawasan khusus sesuai karakteristik penyakit ini.
“Nanti mesti terus disusun, karena kan berbeda halnya dengan COVID-19 dengan Nipah. Mana yang lebih spesifik nanti,” ujarnya.

Kewaspadaan ini diperkuat oleh peningkatan status siaga sejumlah negara terkait virus Nipah. Pembahasan teknis lintas sektor baru saja dilakukan dan kini menunggu penetapan langkah operasional selanjutnya.
“Kemarin kita baru rapatkan, tunggu tanggal mainnya,” imbuh Ati.

Penyakit ini tergolong berat, sehingga kewaspadaan harus terus dijaga. Pemerintah daerah akan berkoordinasi dengan otoritas kesehatan pusat untuk memastikan kesiapsiagaan optimal, terutama karena mobilitas internasional tinggi di Bandara Soekarno-Hatta.

Situasi Global Virus Nipah dan Risiko Penularan

Berdasarkan pemantauan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hingga 23 Januari 2025, tercatat dua kasus konfirmasi dan tiga kasus suspek virus Nipah di West Bengal, India. Belum ada laporan kematian.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati, menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada kasus konfirmasi virus Nipah di Indonesia.

Virus Nipah termasuk kelompok Paramyxovirus, jenis virus RNA yang juga dapat menyebabkan penyakit seperti pneumonia, gondongan, dan campak. Namun, virus Nipah memiliki karakteristik khusus yang menjadikannya ancaman serius.

Penularan virus Nipah terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi, seperti air liur, darah, dan urine. Oleh karena itu, kewaspadaan sejak pintu masuk negara dinilai penting untuk menekan risiko penularan.

Pentingnya Surveilans Dini untuk Pencegahan

Pengaktifan surveilans kesehatan di Soekarno-Hatta bukan sekadar prosedur administratif. Langkah ini memungkinkan deteksi dini dan pemisahan penumpang berisiko tinggi sebelum mereka menyebar ke wilayah lain.

Menurut Ati, prosedur ini juga akan melibatkan pencatatan riwayat perjalanan, pemeriksaan suhu tubuh, dan edukasi bagi penumpang terkait gejala virus Nipah. Pendekatan ini menekankan keselamatan publik tanpa menimbulkan kepanikan.

Selain itu, pemerintah Banten mendorong koordinasi lebih luas dengan rumah sakit rujukan dan laboratorium nasional untuk memastikan penanganan kasus suspek berjalan cepat dan akurat.

Ahli epidemiologi menekankan bahwa deteksi dini adalah kunci pengendalian penyakit menular baru. Dengan skrining ketat di pintu masuk, risiko transmisi lokal dapat diminimalkan.

Ati menegaskan bahwa Banten akan terus menyesuaikan protokol surveilans dengan situasi global dan data ilmiah terbaru. Sistem ini akan dievaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitasnya.

“Kesiapsiagaan harus dinamis, menyesuaikan kondisi global dan karakter penyakit. Pencegahan dini selalu lebih efektif dibanding penanganan pasca-penularan,” kata Ati.

Dengan langkah ini, pemerintah Banten berharap mampu menjaga keamanan kesehatan masyarakat sekaligus mengantisipasi masuknya virus Nipah ke Indonesia. Sistem surveilans aktif di Bandara Soekarno-Hatta diharapkan menjadi perisai awal bagi perlindungan generasi muda dan masyarakat luas.

Baca juga: “Dari Kelelawar ke Manusia, Ini Penyebab Virus Nipah di Balik Wabah India”

setnis

Share
Published by
setnis

Recent Posts

Chat Tak Pantas Guru Besar Unpad ke Mahasiswi Exchange Viral

reicha.net - Chat Tak pantas yang melibatkan seorang oknum guru besar di Universitas Padjadjaran menjadi…

3 hours ago

Usulan Transportasi Umum Gratis 1 Bulan untuk Hemat BBM

reicha.net  - Usulan Transportasi Wacana pemberian layanan transportasi umum gratis selama satu bulan muncul sebagai…

2 days ago

Kisaran Gaji dan Tunjangan PKWT Bank Indonesia

reicha.net  - Kisaran Gaji Pekerja dengan status Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) di Bank Indonesia…

3 days ago

Inspektorat Jatim Selidiki Dugaan Bupati Tulungagung Peras ASN

reicha.net - Inspektorat Jatim mendalami laporan dugaan pemerasan yang melibatkan Bupati Tulungagung terhadap sejumlah aparatur…

4 days ago

Korut Uji Coba Bom Blackout dan Senjata Elektromagnetik

reicha.net  - Korut Uji Coba Bom Laporan terbaru menyebutkan bahwa Korea Utara melakukan uji coba…

5 days ago

Industri Tanggapi Temuan BNN soal Liquid Vape Legal

reicha.net  - Industri Tanggapi Temuan terbaru dari Badan Narkotika Nasional (BNN) yang menyatakan tidak menemukan…

6 days ago