reicha.net – Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier, melontarkan kritik keras terhadap serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Pernyataan ini disampaikan pada Selasa (24/3) saat peringatan 75 tahun pembentukan kembali Kementerian Luar Negeri Jerman. Menurut Steinmeier, serangan tersebut merupakan pelanggaran hukum internasional sekaligus kesalahan politik yang fatal.
Steinmeier menekankan bahwa konflik militer tersebut sejatinya bisa dihindari. Ia menilai perang tidak diperlukan, apalagi jika tujuan utamanya hanya untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. “Langkah ini tidak hanya ilegal, tetapi juga merusak stabilitas politik global,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan posisi Jerman sebagai negara yang konsisten menekankan aturan hukum internasional dalam hubungan global.
Presiden Jerman menyoroti pentingnya hukum internasional sebagai fondasi utama bagi dunia, termasuk bagi Jerman dan negara-negara Eropa. Tanpa aturan jelas, menurutnya, tatanan global bisa kehilangan arah, terutama di kawasan Eropa yang sangat bergantung pada keteraturan diplomatik. Steinmeier menambahkan bahwa Uni Eropa dibangun di atas prinsip hukum dan keteraturan. Pelanggaran seperti ini berpotensi menggoyahkan fondasi tersebut.
Dalam pidatonya, Steinmeier juga menyinggung hubungan transatlantik yang mengalami keretakan sejak awal masa jabatan kedua Presiden AS Donald Trump. Ketegangan ini menurutnya mendorong kebutuhan bagi Eropa untuk lebih mandiri, terutama dalam hal keamanan dan teknologi. “Mewujudkan kedaulatan Eropa di bidang pertahanan dan teknologi adalah sebuah proyek besar yang akan memakan waktu beberapa generasi,” katanya.
Baca juga: “Iran Tegaskan Ali Larijani Meninggal dalam Serangan Konflik”
Ia menekankan bahwa meski proyek kemandirian Eropa membutuhkan waktu panjang, tantangan besar ini tidak boleh lagi dijadikan alasan untuk menunda langkah konkret. Steinmeier mendorong Eropa untuk mengambil inisiatif strategis, mengurangi ketergantungan terhadap kekuatan luar, dan menegaskan peran Uni Eropa sebagai aktor mandiri di panggung global.
Konteks kritik Steinmeier muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah sejak serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari. Serangan itu menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran, dan memicu serangan balasan oleh Iran menggunakan drone dan rudal. Dampak konflik ini meluas hingga ke pasar energi global dan keamanan regional.
Selain menyoroti aspek hukum dan politik, Steinmeier menekankan perlunya diplomasi sebagai solusi utama. Ia menilai pendekatan militer tidak menyelesaikan akar masalah, dan dialog antarnegara harus menjadi prioritas. Kritik ini sekaligus mengingatkan bahwa Eropa tidak bisa sepenuhnya mengandalkan aliansi transatlantik dalam menghadapi konflik global.
Pandangan Presiden Jerman ini sejalan dengan posisi banyak pakar internasional yang menilai eskalasi militer AS dan Israel dapat memperburuk ketegangan regional. Steinmeier menekankan bahwa langkah preventif berupa hukum, diplomasi, dan kemandirian strategis Eropa menjadi kunci menghadapi konflik semacam ini.
Secara keseluruhan, pernyataan Steinmeier menegaskan sikap Jerman yang konsisten: setiap langkah militer harus mematuhi hukum internasional, sementara kedaulatan dan kemandirian Eropa menjadi prioritas jangka panjang. Pesan ini menjadi panggilan bagi negara-negara Eropa untuk menilai kembali ketergantungan mereka terhadap aliansi luar dan memprioritaskan stabilitas hukum serta politik global.
Baca juga: “Apa tujuan AS-Israel menyerang Iran?”




Leave a Reply